Oleh : Hany Rofiqoh, Ciparay Kab. Bandung.
Media sosial telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya di kalangan remaja. Penggunaan media sosial yang intens membawa berbagai dampak, baik positif maupun negatif, terhadap cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi.
Bagi remaja, media sosial bukan hanya alat hiburan, tetapi juga ruang untuk membangun identitas diri dan menjalin hubungan sosial. Namun, di balik manfaatnya, media sosial juga dapat menimbulkan dampak negatif seperti penurunan konsentrasi belajar, ketergantungan digital, hingga gangguan kesehatan mental. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana media sosial mempengaruhi pola pikir dan perilaku remaja saat ini.
Pemuda, sebagai penerus peradaban, hadir di tengah medan yang semakin terkait erat dengan kemajuan teknologi, khususnya media sosial. Tantangan yang dihadapi dalam menjelajahi dunia maya tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga melibatkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip ajaran Islam.
Pemuda sering terpapar pada konten negatif seperti kekerasan, kebencian, dan kehidupan yang tidak sesuai dengan nilai Islam.
Media sosial merupakan wadah yang sering digunakan oleh masyarakat, khususnya anak muda, untuk berinteraksi antar sesama. Setiap hari hampir sebagian besar masyarakat Indonesia mangakses media sosial untuk mencari hiburan dan informasi yang dibutuhkan. Bahkan, menjadikan media sosial sebagai ladang untuk mencari pekerjaan atau mendapatkan pendapatan hidup. Namun, dalam menggunakan media sosial, kita perlu memperhatikan beberapa hal yang sesuai dengan ajaran syariat Islam.
Dilansir dari detik.news, Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, 5,5% remaja usia 10-17 tahun mengalami gangguan mental, dengan rincian 1% mengalami depresi, 3,7% cemas, 0,9% mengalami post-traumatic syndrome disorder (PTSD), dan 0,5% mengalami attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD). Selain itu, sebuah laporan hasil survei di 26 negara termasuk Indonesia menemukan penggunaan medsos membawa rasa khawatir dan cemas lebih besar pada Gen Z dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.
Dengan data yang menunjukkan bahwa 5,5% remaja mengalami gangguan mental dan penggunaan media sosial meningkatkan rasa cemas pada Gen Z lebih besar dibanding generasi sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa tekanan sosial dari media digital berperan signifikan dalam memperburuk kesehatan mental remaja, bukan sekadar menjadi sarana ekspresi yang bebas.
Media digital hari ini bukan lagi sekadar hiburan. Di bawah sistem kapitalisme, ia berubah jadi mesin penghisap mental generasi muda. Anak-anak dan remaja dijejali konten tanpa henti: drama, sensasi, flexing, hingga gaya hidup palsu. Semua itu bikin candu, bikin lupa waktu, bikin otak terus dipaksa siaga. Bukan kebetulan kalau banyak anak muda sekarang gampang cemas, overthinking, merasa tidak cukup, dan kehilangan arah. Sistem ini memang didesain untuk bikin ketagihan, lalu diperas.
Dalam kapitalisme, yang penting bukan kondisi jiwa generasi, tapi untung perusahaan. Platform digital menjual kecanduan sebagai sesuatu yang terlihat normal. Waktu habis berjam-jam di depan layar dianggap wajar, scroll tanpa henti dianggap hiburan, dan keterikatan berlebihan pada gawai dipoles seolah bagian dari gaya hidup modern. Yang sebenarnya merusak kesehatan mental justru dikemas sebagai hal lumrah. Selama iklan jalan dan data pengguna aman dikantongi, jeritan generasi cuma dianggap efek samping.
Arus perkembangan digital tidak dapat dihentikan. Namun, bukan berarti tidak dapat dikendalikan oleh manusia yang dianugerahi akal atau pikiran oleh Allah SWT. Jika baik yang ada di dalam kepala seseorang, tentu output yang dihasilkan juga baik, begitupun sebaliknya. Karenanya, untuk mengubah generasi z yang “linglung” menjadi generasi yang “cerdas” memanfaatkan era digital tentu dengan mengalihkan paradigma berfikir mereka menjadi paradigma berfikir Islam.
Akar masalah kerusakan mental generasi bukan sekadar media sosial, tetapi sistem kapitalisme yang menjadikan manusia sebagai objek eksploitasi. Islam menawarkan sistem alternatif yang menempatkan kesejahteraan jiwa dan akal sebagai tujuan utama kehidupan. Dengan penerapan Islam secara kaffah, teknologi akan dikendalikan oleh nilai, bukan oleh nafsu keuntungan.
Wallahu a'lam bish shawwab.
Tags
opini