Oleh : Tjahayu Riawati
Bencana, seharusnya jadi momen ujian kemanusiaan. Tapi yang sering kita lihat justru sebaliknya.
Di tengah - tengah rumah yang hancur, keluarga yang tercerai - berai, lingkungan yang porak - poranda dan korban yang bahkan tidak tahu besok bisa makan atau tidak, ada pihak - pihak yang sibuk menghitung untung.
Harga kebutuhan pokok mendadak naik. Bantuan dipilah - pilah. Penderitaan dijadikan konten. Kamera menyala, caption ditulis, empati diperdagangkan.
Lumpur bencana bukan cuma menenggelamkan rumah, tapi juga menenggelamkan nurani.
Yang lebih menyakitkan, semua ini terjadi terang - terangan. Seolah musibah adalah peluang emas. Seolah air mata korban sah dijadikan modal. Dan kita dipaksa bertanya : kok bisa sampai segininya?
Coba bayangkan kamu di posisi korban.
Anak menangis kelaparan. Orang tua sakit tanpa obat. Malam dingin tanpa selimut. Lalu di sekitarmu ada orang yang tersenyum karena “rejeki lagi deras"
Perihnya bukan cuma di badan, tapi di hati.
Rasanya seperti dikhianati oleh sesama manusia. Di saat empati harusnya hadir paling depan, keserakahan justru ambil alih. Dan wajar kalau muncul amarah, kecewa, bahkan muak.
Karena ini bukan sekadar soal bantuan.
Ini soal hilangnya rasa takut kepada Allah.
Musibah Adalah Ladang Amal, Bukan Ladang Cuan
Islam tidak pernah mengajarkan netral dalam kezaliman.
Dalam Islam, bencana bukan ajang cari panggung, bukan peluang bisnis, dan bukan konten monetisasi. Bencana adalah ladang amal, tempat iman diuji secara nyata.
Islam mengajarkan :
Haram mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain.
Wajib mendahulukan keselamatan dan kebutuhan korban.
Tolong-menolong hanya dalam kebaikan dan takwa, bukan dosa dan keserakahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa mempersulit orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan mempersulit urusannya di dunia dan akhirat."
(HR. Muslim)
Solusi Islam tidak setengah-setengah, tapi menyeluruh:
- Ta’awun, tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, bukan dalam dosa dan kezaliman.
- Niat lurus, membantu karena Allah, bukan karena kamera atau pencitraan.
- Amanah, dalam distribusi bantuan tanpa manipulasi dan politisasi.
- Menahan diri, tidak mengambil manfaat berlebihan dari penderitaan orang lain.
Dalam Islam, menolong korban bukan soal siapa paling terlihat, tapi siapa paling ikhlas.
Keberkahan Tidak Pernah Lahir dari Air Mata
Sejarah Islam penuh dengan contoh bagaimana musibah dihadapi dengan solidaritas, bukan eksploitasi.
Umar bin Khattab r.a. pernah menolak kenyang ketika rakyatnya kelaparan. Para sahabat berlomba membantu, bukan berlomba terlihat membantu. Karena mereka paham bahwa rejeki yang berkah tidak pernah lahir dari penderitaan orang lain.
Islam tidak hanya bicara moral, tapi juga sistem nilai. Ketika Islam diterapkan secara menyeluruh, keserakahan ditekan, empati dijaga, dan musibah tidak berubah menjadi pasar dosa.
Masalah hari ini bukan kurangnya bantuan.
Masalahnya adalah hilangnya rasa takut kepada Allah dalam mengelola musibah
Kalau kamu masih punya nurani:
Suarakan kritik dengan adab dan keberanian.
Terus berisik di media sosial soal ketidakadilan dan eksploitasi korban.
Jangan biarkan lumpur bencana mengotori iman kita.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa besar cuan yang kita raih,
tapi seberapa besar kemanusiaan dan iman yang kita pertahankan.
Tags
opini