Setahun Program MBG, Ancaman Stunting Tak Kunjung Hilang


Oleh : Dedah Jubaedah, Ciparay Kab. Bandung.



Setahun sudah program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan, yang dinyatakan sebagai senjata utama pemerintah dalam menangani stunting. Alih-alih memberikan titik terang perbaikan gizi nasional, faktanya di lapangan justru sebaliknya, ancaman stunting masih terus menghantui, masa depan generasi bangsa tak kunjung selesai. 

Setahun pula MBG diwarnai oleh berbagai peristiwa memprihatinkan. Mulai Kasus keracunan massal yang menimpa para penerima manfaat yang menunjukkan lemahnya pengawasan kualitas. Selain itu, isu sensitif juga mengenai temuan ompreng mengandung babi dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak memenuhi standar kelayakan.

Kemudian dari sisi fiskal, penetapan anggaran sangat besar bagi MBG mencapai ratusan triliun rupiah juga berdampak sistemik pada pengurangan pos anggaran vital yang lain, termasuk anggaran bencana dan anggaran pendidikan. Ironisnya, meski demikian anggaran diklaim tersedia, akuntabilitas penggunaannya juga terus dipertanyakan oleh masyarakat. 

Jika kita melihat lebih dalam, maka yang terlihat adalah MBG lebih sebagai program populis kapitalistik daripada solusi substantif bagi masalah gizi. Fokus utamanya adalah hanya pada terlaksananya program secara teknis demi mengejar angka ketercapaian, bukan pada kemaslahatan yang nyata pada masyarakat. Bahkan program ini dipaksakan terus berjalan, meskipun di masa libur sekolah ketika murid-murid tidak berada di tempat.

Hal ini tentu memicu kebingungan publik. apakah ini urgensi gizi atau hanyalah sekadar formalitas untuk menghabiskan anggaran?
Kuat dugaan bahwa adanya pemaksaan keberlanjutan program ini bukanlah semata untuk rakyat, akan tetapi melainkan demi menjaga agar "dapur SPPG" tetap beroperasi.

Islam memberikan solusi yaitu menekankan pendekatan holistik dan fundamental untuk mengatasi stunting, melampaui sekadar pemberian makanan tambahan, yang mungkin menjadi salah satu keterbatasan program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam jangka pendek. Islam memandang pencegahan stunting sebagai kewajiban kolektif untuk menyiapkan generasi yang kuat.

pendekatan Holistik yaitu pendekatan yang melihat segala sesuatu secara utuh dan menyeluruh, memahami bahwa setiap bagian saling berhubungan dan memengaruhi keseluruhan, bukan hanya fokus pada bagian-bagiannya secara terpisah. Sedangkan, Fundamental artinya sesuatu yang bersifat dasar, pokok, atau mendasar, menjadi landasan atau pondasi bagi sesuatu yang lebih kompleks. 

Jadi, untuk mencapai suatu tujuan negara harus melakukan strategi secara menyeluruh atas permasalahan ini, bukan hanya memberikan pangannya saja, tetapi memfasilitasi sandang & papan, lingkungan yang bersih, air bersih, serta memberikan edukasi kepada orang tua tentang gizi dan stunting karena itu adalah tanggungjawab negara untuk mengayomi rakyatnya.  Hanya dibawah naungan Islamlah masalah ini bisa teratasi. 
Wallahu a'lam bish shawwab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak