Rajab, Isra Mikraj dan Kewajiban Membumikan Syariat

Oleh ; Imas Azahra 

Bulan Rajab menempati posisi istimewa dalam kalender kaum Muslim. Dibulan inilah terjadi pristiwa agung Isra Mikraj. 

Perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Lalu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa ini kerap diperingati umat islam sebagai momentum spiritual yang indetik dengan turunnya perintah sholat. Namun, pemaknaan Isra Mikraj sejatinya tidak boleh berhenti pada ritual ibadah semata. 

Faktanya, Isra Mikraj bukan hanya tentang perjalanan fisik Rasulullah SAW dan kewajiban sholat 5 waktu. Tak lama setelah peristiwa ini, sejarah mencatat terjadinya Baiat Aqobah kedua-sebuah peristiwa politik yang menentukan arah perjuangan Islam. Baiat ini menandai kesiapan kaum Anshar  untuk melindungi Rasulullah SAW dan menegakkan Islam sebagai sistem kehidupan. Artinya Isra Mikraj adalah gerbang perubahan  besar umat,bukan hanya spiritual, tetapi juga ideologis dan politis. 

Sayangnya, lebih dari satu abad pasca runtuhnya Khilafah Islamiyah -sekitar 102 tahun yang lalu -umat islam hidup tanpa penerapan hukum dari langit secara kaafah. Syariat Islam tercerabut dari kehidupan publik dan digantikan oleh sistem buatan manusia yang bertumpu pada sekularisme dan demokrasi kapitalistik. 

Isra Mikraj dan makna menegakkan shalat 
Hikmah Isra Mikraj hari ini banyak direduksi sebatas kewajiban shalat sebagai ibadah mahdhah. Padahal dalam banyak nash, shalat memiliki makna yang jauh lebih luas. Dalam hadist tentang larangan memerangi imam selama mereka "menegakkan shalat". Para ulama menjelaskan bahwa makna menegakkan shalat adalah menegakkan hukum Allah secara menyeluruh. 

Ketika umat hanya memahami shalat sebagai ritual individual, sementara hukum Allah disingkirkan dari sistem pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan peradilan. Maka hakikat Isra Mikraj telah direduksi. Lebih dari itu, penerapan sistem sekuler demokrasi secara global sejatinya merupakan bentuk penentangan terhadap hukum dari langit. Kedaulatan tidak lagi berada ditangan syariat, tetapi ditangan manusia, mayoritas, dan kepentingan modal. 

Ditinggalkannya syariat Islam telah melahirkan bencana politik dan ekonomi struktural, ketimpangan sosial yang parah, krisis kemanusiaan yang berkepanjangan, bahkan kerusakan alam yang masif. Runtuhnya Khilafah adalah bencana besar bagi umat Islam dan dunia. Sejak saat itu, umat manusia dipaksa tunduk pada kepemimpninan kapitalisme global yang rakus, zalim, dan tidak berperikemanusiaan. 

Membumikan Kembali Hukum Langit

Rajab dan Isra Mikraj seharusnya menjadi momen refleksi dan kebangkitan, saatnya membumikan kembali hukum Allah dari langit ke bumi. Caranya bukan dengan kosmetik spiritual, tetapi dengan mencampakkan hukum sekuler kapitalisme dan menegakkan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah Islamiyah. 

Masjidil Aqsha-tempat Rasulullah SAW memulai perjalan Isra Mikraj -hari ini berada dibawah penjajahan entitas Yahudi. Palestina terus berdarah, sementara dunia Islam terpecah menjadi negara-negara lemah tanpa pelindung sejati. Kezaliman terhadal kaum Muslim di Rohingya, Uighur, India, Rusia, dan Fhilipina selatan terus berlangsung tanpa pembelaan nyata. Semua ini adalah konsekuensi absennya satu kepemimpinan Islam yang mempersatukan dan melindungi umat. 

Karena itu, seruan kepada tentara -tentara Muslim untuk membebaskan Palestina dan menegakan kembali Khilafah Rasyidah adalah seruan yang syah, mendesak, dan ideologis. Umat Islam bukan umat  lemah, mereka umat Rasulullah SAW, umat Khulafaur Rasydin, cucu Al-Mu'tashim, cucu Salahudin Al-Ayubi, cucu Muhamnad Al-Fatih, cucu para Khalifah Utsmani hingga Abdul Hamid 2. Sejarah telah membuktikan, umat ini mampu mengubah wajah dunia ketika dipimpin oleh Islam. 

Hari ini, partai Islsm ideologis terus berjuang siang dan malam, memimpin dan membimbing umat agar kembali melanjutkan kehidupan Islam. Menegakkan Khilafah bukanlah perjuangan pinggiran, melainkan perjuangan pokok, agung, penting, dan vital. Inilah jalan untuk mengembalikan kemuluaan Islam dan memuliakan umat manusia dengan keadilan hukum dari langit. 

Rajab dan Isra Mikraj bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah seruan langit agar umat Islam bangkit, bersatu, dan menjemput kembali kepemimpinan Islam atas dunia.

Wallahu a'lam bisshawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak