Oleh : Devi Oktarina
Tampaknya kaum muslimin masih dalam zona terpuruk. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai problem yang dialami oleh negeri negeri muslim. Yakni masih dalam kubangan penjajahan barat. Penjajahan yang tidak wujud fisik seperti di era Belanda, namun penjajahan dengan cara halus yang tidak dapat dimengerti oleh mereka yang terbuai oleh cinta dunia dan takut akan kematian.
Negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ternyata hanya sebutan saja. Faktanya dengan nama terbesar namun lemah dan tak berdaya. Hidup dalam penindasan dan persekusi ulama, aktivis dan ajarannya tidak kunjung selesai. Kajian kajian dan khutbah Jum’at selalu diawasi. Ajaran Islam Khilafah dan jihad yang merupakan murni ajaran islam dihapus dari kitab kitab fiqih, bahkan tak segan segan para aktivis dakwah nya di penjara dengan segala pasal karet yang rezim buat demi kepentingan pribadi dan pesanan kapitalisme (AS).
Umat muslim masih terus didera penjajahan secara fisik dan penindasan yang keji. Semisal Palestina, Uighur, suriah, khasmir, myanmar dan beberapa negara lainya. Mereka hidup dalam ancaman kejaran oleh para rezim anti Islam, dikejar, dibunuh, diperkosa, dan dibantai beramai ramai. Mereka diperlakukan seperti binatang.
Bencana ekologis yang sering terjadi, seperti banjir bandang dan longsor baru-baru ini yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, bukanlah sekadar takdir. Bencana tersebut merupakan hasil dari kebijakan kapitalisme.
Siklus hidrologi menjadi terganggu parah akibat, pertama, illegal mining (pertambangan ilegal), yakni pertambangan yang dilakukan di hulu secara diam-diam meskipun izin awalnya mungkin untuk kebun. Kedua, illegal logging yakni penebangan tanpa izin atau konsesi apa pun. Ketiga, konversi ugal-ugalan, yakni konversi lahan yang sah secara hukum (legal), tetapi dilakukan secara brutal dan asal-asalan karena orang yang memberi izin tidak bijak dan mementingkan uang masuk.
Pengawasan terhadap tata ruang juga melemah dan mudah disogok, bahkan ada aturan yang diubah melalui Undang-Undang Cipta Kerja, yang secara hukum mungkin dibolehkan tetapi tetap akan menimbulkan masalah secara alam.
Masalah lingkungan ini berakar dari ideologi kapitalisme ekstraktif, yang didorong oleh keserakahan. Dalam mazhab liberal ekstraktif, sumber daya alam dipandang sebagai komoditas yang tinggal diambil, hutan adalah lahan produksi, dan sungai hanya saluran limbah. Model ekonomi ini bersifat ekspansif, selalu ingin mengakumulasi, dan mengagungkan ideologi pertumbuhan yang tidak pernah merasa cukup (tidak qanaah).
Meskipun AMDAL diwajibkan untuk berbagai proyek, di tingkat pelaksanaan sering terjadi pelanggaran dan ketidakseriusan, karena ada pejabat yang sudah dibayar duluan (kasbon) untuk meloloskan dokumen AMDAL. Selain masalah korupsi di tingkat penguasa, masalah lain adalah kesulitan mendapatkan tenaga ahli yang pandai dan jujur, baik di tingkat konsultan maupun pemeriksa AMDAL. Pejabat yang jujur dan berilmu sering disingkirkan dari posisinya ke jabatan yang tidak relevan (misalnya dari Dinas Lingkungan ke Kepala Perpustakaan) agar izin izin bermasalah dapat diloloskan.
Di tengah ketegangan geopolitik dunia yang meningkat, AS kembali memperlihatkan dirinya sebagai kekuatan utama yang bersedia campur tangan di negara lain dengan alasan “demokrasi” dan kepentingan sendiri. Ancaman atau aksi militer AS ke Venezuela bukanlah sesuatu yang baru, tapi peningkatan terkini ini memiliki konsekuensi lebih luas, termasuk efek besar pada China.
Venezuela, negara Amerika Latin yang kaya minyak, telah lama menjadi target sanksi dan tekanan AS. Di bawah Presiden Nicolás Maduro, AS memberlakukan sanksi ekonomi berat, seperti embargo minyak dan pembekuan aset. Tuduhan utama meliputi pelanggaran HAM, korupsi, dan penindasan oposisi. Namun, yang disebut “dukungan demokrasi” sebenarnya upaya menggulingkan pemerintah yang bertentangan dengan kepentingan AS.
Disamping itu perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang kembali memanas pada 2025, dipicu oleh kebijakan tarif tinggi dari pemerintahan Presiden Donald Trump. Tarif tambahan sebesar 32% terhadap produk Tiongkok dan rencana tarif 10–20% untuk semua impor telah menciptakan ketegangan global.
ANALISIS
Tatanan dunia di bawah kepemimpinan sistem kapitalisme global yang dikendalikan secara penuh oleh Amerika (AS) sebagai negara pertama, kian hari kian menampakkan kebobrokannya. Berbagai krisis terus terjadi di berbagai bidang kehidupan. Mulai dari krisis ekonomi yang memproduksi kemiskinan dan gap sosial yang makin lebar, krisis moral yang menghilangkan nilai-nilai luhur dan kemanusiaan, krisis politik yang menampakkan kerakusan manusia akan harta dan kekuasaan, hingga krisis lingkungan yang menyebabkan bencana alam tidak berkesudahan.
Apa yang terjadi di Gaza, bahkan lebih dari cukup untuk menelanjangi kezaliman Amerika dengan tatanan hidup yang dikendalikannya. Berbagai lembaga dan hukum internasional yang ada pun gagal total dalam menciptakan perdamaian dunia. Bahkan, terbukti semuanya hanya menjadi alat permainan yang digunakan Amerika untuk merampok sumber daya alam dunia dan memperbudak sumber daya manusianya.
Gaza dan Venezuela, Bukti Tatanan Dunia Tanpa Norma
Dengan demikian, AS dan sekutunya jelas bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan akut yang terjadi di negara negara yang tidak mau tunduk pada AS. Dukungannya yang tanpa batas atas entitas Zionis telah menyebabkan 71.412 warga Gaza tewas dan 171.314 lainnya mengalami luka-luka sejak September 2023. Di luar itu, lebih dari 1,5 juta warga Gaza lainnya terpaksa mengungsi dan bertahan hidup di camp camp darurat yang nyaris tanpa fasilitas.
Tidak salah jika AS dituding melegitimasi upaya genosida. Selain memasok senjata, AS turut membiarkan penjajah membunuh secara perlahan warga Gaza dengan cara yang paling menyakitkan. Misalnya, membiarkan Zionis memblokade wilayah Gaza sebagai langkah menerapkan strategi pelaparan. Hingga sepanjang 2025 saja, ada 95.000 anak mengalami malnutrisi. Saat ini AS pun membiarkan Zionis memanfaatkan cuaca dingin untuk membunuh penduduk Gaza, khususnya anak-anak yang tidak berdaya. Tercatat hingga hari ini, ada 21 bayi yang tewas dalam kondisi mengalami hipotermia.
AROGANSI AS DAN SEKUTUNYA
AS di bawah kepemimpinan Donald Trump, menampakkan kerakusan nya untuk menguasai dunia. Bukan hanya di Timur Tengah, ia bahkan tanpa malu turut campur dalam urusan internal negara negara di Amerika Latin atau Amerika Selatan dengan dalih yang juga tidak masuk logika.
Kata-kata dalam pidatonya yang menyebut, “Saya tidak butuh hukum internasional,” dan bahwa batas terbesar dalam menggunakan kekuasaannya sebagai pemimpin negara hanyalah moralitas pribadinya sendiri, menunjukkan tatanan dunia di bawah kepemimpinannya benar-benar sudah tidak bisa diharapkan lagi baik itu dari sisi perdagangan, politik, sosial budaya apalagi dari sisi keimanan.
BUTUH KEPEMIMPINAN ISLAM
Kesombongan donald trump( AS) dan sekutunya tidak menunjukkan kekuatan sistem kepemimpinan kapitalisme global yang dipimpinnya. Semua keangkuhan itu seakan paling berdaya, hal itu karena tidak ada satu pun kekuatan yang menjadi penyeimbang nya, apalagi untuk mengalahkannya. Hal ini terjadi karena seluruh negara di dunia ini menganut ideologi kapitalisme yang menginduk pada ideologi / sistem yang AS buat. Hal itu seperti memberlakukan hukum rimba, yang kuat yang menang, yang kalah terinjak injak.
Pada dasarnya ideologi kapitalisme sangat rapuh, lemah dan tidak berlandas sehingga sistem kepemimpinan dan aturan yang dilahirkannya dipastikan sangat rapuh, lemah dan tidak berdasar juga. Asas kapotalisme adalah asas sekuler yang mengurus urusan agama hanya pada gereja saja atau tempat peribadatan lainnya. Dan mengurus urusan kehidupan dengan asas kebebasan dan peran akal manusia yang lemah dan terbatas dalam mengatur seluruh urusan kehidupan. Asas rusak ini kemudian menjadi sebab munculnya aturan yang sangat destruktif sekaligus menjadi sebab munculnya berbagai kezaliman, kerusakan di muka bumi ini.
Tidak ada lagi ideologi yang berpotensi mengalahkan ideologi kapitalisme selain Islam, sejak runtuhnya Uni soviet pada perang dunia I dan II, ideologi sosialisme bukan lah menjadi ancaman pagi bagi ideolgi kapitalisme. Saat Khilafah terakhir berakhir pada 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924), Islam tidak lagi diemban ideologi dalam ber negara sehingga islam pun kehilangan sifatnya sebagai sebuah negara yang akan menjadi pesaing bagi kapitalisme dan membuat perubahan yang solutif.
Ideologi islam ini terus dikubur dan dikaburkan oleh Barat (kapitalisme) dengan pengarusan sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dan kehidupan serta barat gencar melakukan serangan pada umat islam dengan pemikiran serta budaya asing (barat). Mereka hendak mengubur ideologi islam hingga umat terjauhkan dari kebangkitan yang hakiki dan terus berada dalam cengkeraman penjajahan serta mudah di kendalikan.
Mereka pun terus memerangi gerakan Islam ber politik melalui propaganda perang global melawan teror dengan memonsterisasi Khilafah dan pengusungnya demi memupus keinginan umat untuk kembali hidup dalam kepemimpinan Islam. Termasuk menjalankan proyek memecah belah umat Islam melalui berbagai isu isu dan propaganda propaganda barat.
AS dan sekutunya juga tampak sadar betul bahwa Islam dengan sistem kepemimpinannya, yakni Khilafah, adalah satu-satunya sistem kepemimpinan yang bisa menantang, bahkan mengalahkan sistem kepemimpinan kapitalisme. Khilafah pula yang mereka yakini akan menghentikan mimpi mimpi mereka untuk menguasai seluruh kekayaan dunia hingga mereka melakukan berbagai cara untuk mencegah bangkitnya kembali Khilafah itu.
Jika sistem Khilafah tegak di atas akidah yang benar, yang menjadikan kedaulatan membuat hukum hanya pada Tuhan Sang Pencipta Alam, jauh dari konflik dan perdebatan. Seluruh aturannya merupakan solusi atas berbagai problem kehidupan dan turun sebagai rahmat bagi seluruh alam dan tidak akan ada yang mempertentangkan nya. Khilafah akan menjaga jiwa, menjaga harta, menjaga keamanan, serta negara.
Sejarah mencatat, tatkala umat Islam hidup di bawah naungan Khilafah, mereka mampu tampil sebagai khairu ummah, umat terbaik yang memimpin peradaban cemerlang. Bahkan kurang lebih 13 abad lamanya, Khilafah tampil sebagai negara pertama yang begitu Adidaya, sekaligus menjadi model sebuah peradaban. Bukan hanya sejahtera secara materi, melainkan penuh berkah karena negara menjadi manifestasi iman dan ketaatan total pada syariat Allah.
Rajab 1447 H ini, 105 tahun umat Islam hidup tanpa naungan Khilafah, tanpa pengurus (raain) dan penjaga (junnah). Sudah lebih dari cukup umat Rasulullah saw dan pewaris generasi terbaik umat Islam ini hidup dalam kehinaan dan keterpurukan akibat tunduk pada kepemimpinan kapitalisme sekuler.
Umat Islam wajib bangkit dan bersatu untuk mengembalikan kemuliaan dengan berjuang menegakkan kembali Khilafah Islam. Hingga tatanan dunia yang rusak di bawah kepemimpinan AS dengan ideologi kapitalismenya akan segera diganti dengan tatanan peradaban Islam yang menebar rahmat ke seluruh alam.
Sungguh, Allah Swt. telah menjanjikan bahwa Khilafah yang akan datang akan mewujudkan kesejahteraan tanpa bandingan. Khilafah pun akan menjadi pembebas Palestina, termasuk Gaza, menghinakan AS, Zionis Yahudi dan sekutunya.