Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
Tsaqofah.my.id--Berita Gaza-Palestina seolah menghilang, padahal tidak kunjung membaik, penderitaan yang dialami saudara kita di sana masih panjang seolah tanpa akhir. Inggris, Kanada, Prancis, dan negara-negara lain menyebut situasi kemanusiaan di Gaza memburuk. Negara-negara tersebut juga menyerukan Israel untuk mengambil tindakan mendesak.
Israel harus mencabut apa yang disebutnya sebagai “pembatasan yang tidak masuk akal” pada impor tertentu termasuk peralatan medis dan tempat penampungan, dan membuka perbatasan untuk meningkatkan aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza (Tribunnews.com, 31-12-2025).
Pernyataan yang diterbitkan secara daring oleh Kementerian Luar Negeri Inggris, mengatakan Israel harus mengizinkan organisasi non-pemerintah untuk bekerja di Israel secara berkelanjutan dan dapat diprediksi, dan memastikan PBB dapat melanjutkan pekerjaannya di wilayah Palestina tersebut.
Semua itu karena Israel mengatakan telah menangguhkan beberapa organisasi kemanusiaan, beroperasi di Jalur Gaza karena gagal mematuhi aturan pendaftaran baru. Israel mengklaim, aturan tersebut bertujuan untuk mencegah Hamas dan kelompok militan lainnya menyusup ke organisasi bantuan. Dan di sepanjang perang, Israel mengklaim bahwa Hamas menyalahgunakan pasokan bantuan, tuduhan yang dibantah oleh PBB dan kelompok-kelompok bantuan.
Aturan baru yang dimaksud adalah Israel sudah diumumkan oleh Israel awal tahun ini, yaitu mengharuskan organisasi bantuan untuk mendaftarkan nama-nama pekerja mereka dan memberikan rincian tentang pendanaan dan operasi agar dapat terus bekerja di Gaza.
Di Indonesia, MUI mengecam keras pemerintah Israel, yang kembali melarang organisasi kemanusiaan internasional untuk memberi pelayanan medis dan beroperasi di Gaza. Bagi MUI, tindakan Israel ini adalah upaya strategis mereka untuk mengekspos penderitaan rakyat Gaza. Sudarnoto Abdul Hakim, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, mengatakan, tindakan Israel tidak hanya mencerminkan pengabaian total terhadap nilai-nilai kemanusiaan, tetapi juga menunjukkan bahwa Israel secara sadar dan terencana menjadikan penderitaan rakyat sipil sebagai instrumen kebijakan politik dan militer (kumparan.com,3-1-2026).
Sudarnoto menambahkan, tindakan ini semakin menegaskan bahwa agresi Israel di Gaza telah melampaui batas konflik bersenjata dan mengarah pada kejahatan kemanusiaan serius, dan genosida. Padahal telah ada konvensi Jenewa yang menyebutkan ada melindungi organisasi kemanusiaan dalam perang. Jika tindakan Israel ini didiamkan, justru memperkuat pandangan dunia bahwa ada standar ganda dalam memandang Israel.
Kapitalisme Bukan Sistem Sahih
Ada 37 organisasi kemanusiaan beroperasi di Palestina yang dilarang Israel, di sisi lain serangan, pembunuhan, pencaplokan wilayah Palestina terus dilakukan oleh rezim Israel laknatullah. Sehingga menjadi keniscayaan penderitaan rakyat Palestina akan terus berlangsung selama negara Israel tetap eksis, baik diakui ataupun tidak oleh dunia. Lebih jauh, Israel akan terus mewujudkan cita-citanya mendirikan Israel Raya dan menguasai politik-ekonomi dunia dengan segala cara.
Inilah yang berbahaya, segala upaya AS dan kecaman negara-negara muslim samasekali tidak akan bisa membebaskan Palestina, termasuk kebijakan AS terakhir yang presiden Prabowo ikut menandatanganinya yaitu Trump Board of Peace atau dewan keamanan ala Trump. Sesungguhhya ini hanyalah istilah lain dari hegemoni AS yang kembali diunjukkan melampaui kewenangan PBB sebagai konteksnya sebagai polisi dunia. Dan mirisnya AS sudah ada di dalamnya masuk dalam keanggotan Dewan Keamanan PBB yang memiliki hak veto.
Membiarkan Israel tetap eksis sama dengan membiarkan Palestina menderita selamanya. Berbagai tawaran penyelesaian yang dipimpin AS akan memosisikan Palestina ke dalam jurang penderitaan yang makin dalam. Apalagi mengutuk dan memohon kebaikan Israel membuka bantuan kemanusiaan tak cukup untuk membebaskan penderitaan Palestina. Sebagaimana pernyataan Presiden Prabowo yang ia klaim rasional yaitu perdamaian hanya bisa diraih jika ada jaminan keamanan bagi Israel dari seluruh negara dan bangsa di dunia ini, Astaghfirullah..
Hanya Khilafah yang Bisa Selamatkan Palestina
Pengkhianatan penguasa muslim harus dihentikan dan kesadaran kaum muslimin untuk bangkit dan bersatu dalam naungan Khilafah harus terus dikobarkan. Terlalu banyak fakta menyakitkan terekspos dari media masa terpecaya, namun semua itu hanya wacana apalagi jika dikaitkan dengan perilaku para pemimpin di Buduran ini
Harus ada upaya dari masyarakat yang memudahkan, meyakinkan bahwa penderitaan Palestina baru akan berakhir jika ada negara adidaya Khilafah yang menjadi junnah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw," Sesungguhnya Imam/Khalifah adalah perisai orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggung jawab atasnya."(HR Muslim).
Upaya paling urgen hari ini adalah mendorong dan menguatkan perjuangan menegakkan Khilafah Islam di tengah umat dan dunia internasional. Masyarakat harus bersama jamaah dakwah idiologis hingga memiliki kemampuan mengangkat Khalifah sebagai komando tertinggi tentara militer kaum muslim untuk berjihad, menumpaskan Israel hingga rata dengan tanah. Di sisi lain harus ada upaya terus menerus mengingatkan kembali status Palestina sebagai tanah milik umat Islam. Bukan tanah kosong yang boleh diatur sembarangan baik oleh Israel, AS atau Inggris. Wallahualam bissawab.
