Solusi Tuntas Masalah Kekerasan antara Guru dan Murid yang masih Terus Terjadi


Oleh ; Ami Ammara 



Seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, bernama Agus Saputra adu jotos dengan siswanya hingga video yang memuat aksi mereka viral di media sosial. Tak berhenti di situ, Agus Saputra melaporkan adu jotos itu ke Polda Jambi sebagai penganiayaan.

Peristiwa keributan hingga adu jotos itu terjadi di SMK 3 Negeri Tanjung Jabung Timur, dari video yang beredar selama 58 detik, awalnya agus sempat menyampaikan perkataan lewat mikrofon. Belakangan diketahui bahwa perkataan Agus diduga merupakan hinaan yang menyulut amarah sejumlah siswa hingga adu jotos terjadi.

Pihak guru yang menyaksikan kemudian melerai perkelahian itu dengan membawa Agus masuk ke ruangan. Dinas Pendidikan Provinsi Jambi saat ini telah mendalami informasi soal insiden keributan antara guru dan murid.

"Kita sudah minta penjelasan dari kepsek, hari ini sudah dilakukan mediasi duduk bersama forum komunikasi kecamatan, ada camat, lurah, kapolsek, dan para siswa serta majelis guru," kata Kepala Bidang SMK Disdik Provinsi Jambi, Harmonis, dilansir detikSumbagsel, Rabu (14/1).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti turut merespons terkait guru Agus adu jotos dengan sejumlah siswa. Mu'ti mengatakan disdik setempat bersama pihak-pihak terkait sudah menangani kejadian tersebut.

Kekuasaan dan Kekerasan

Dalam dunia pendidikan, guru memegang otoritas simbolik yang besar. Ia bukan sekadar pengajar, tetapi juga figur kuasa yang menentukan suasana psikologis ruang kelas. Karena itu, setiap kata yang keluar dari mulut seorang guru memiliki daya pengaruh yang jauh lebih kuat dibandingkan ucapan siswa.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menyebut ini sebagai "symbolic violence", kekerasan yang bekerja melalui bahasa, label, dan simbol, bukan melalui pukulan. Ucapan yang merendahkan latar belakang ekonomi atau keluarga murid dapat melukai harga diri dan membentuk rasa terhina yang mendalam. Dalam konteks Indonesia, hal ini menjadi lebih sensitif. Banyak siswa SMK berasal dari keluarga kelas pekerja atau ekonomi bawah. Ketika orang tua mereka yang menjadi sumber kehormatan dan identitas dilecehkan, yang tersentuh bukan hanya emosi, tetapi juga martabat.

Namun, di sinilah garis tegas harus ditarik: kekerasan simbolik tidak boleh dibalas dengan kekerasan fisik. Pengeroyokan terhadap guru adalah tindak pidana. Ia melanggar hukum dan sekaligus merusak fondasi pendidikan. Sekolah tidak boleh menjadi tempat di mana emosi kolektif mengalahkan akal sehat. Jika sekelompok siswa merasa berhak memukul guru hanya karena merasa tersinggung, maka otoritas pendidikan runtuh. Yang lahir bukan generasi kritis, melainkan generasi yang menyelesaikan masalah dengan tinju. Dalam perspektif negara hukum, ini berbahaya. Bila kekerasan massal ditoleransi dengan dalih “emosi”, maka hukum kehilangan wibawanya. Negara harus hadir dengan tegas, bukan untuk membalas, tetapi untuk memulihkan ketertiban dan keadilan.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mencerdaskan otak,  tetapi juga tentang memanusiakan manusia.
Dan ketika guru dan murid saling memukul di sekolah, apa yang sebenarnya terjadi pada pendidikan kita??

Pendidikan dalam Naungan Khilafah

Kasus viral seorang guru SMK dikeroyok murid di Jambi bisa diselesaikan secara mendasar, hanya bila sistem pendidikan dikembalikan ke landasan Islam yang menyeluruh. Solusinya adalah sistem Khilafah.

Pertama, Khilafah akan membangun kurikulum berbasis akidah. Seluruh pelajaran dan suasana sekolah diarahkan untuk menanamkan keimanan dan ketakwaan. Tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak pekerja, tetapi membentuk pribadi Muslim yang taat dan berdisiplin dari kesadarannya sendiri.

Kedua, Khilafah akan memulihkan otoritas guru sebagai pewaris para Nabi. Guru dilindungi dari kriminalisasi ketika menjalankan ta’dib sesuai syariat. Bila sanksi fisik ringan dibutuhkan, itu dilakukan secara proporsional dan penuh kasih sayang, bukan karena amarah. Dengan begitu, wibawa guru tetap terjaga tanpa melahirkan kekerasan.

Ketiga, Khilafah akan menciptakan lingkungan sosial yang bersih dan mendukung pendidikan. Tidak ada iklan rokok, hiburan yang merusak moral atau budaya permisif. Ketika lingkungan eksternal bersih, beban moral pendidik akan jauh lebih ringan, serta pembinaan karakter berjalan alami.

Sudah saatnya kita menuntut solusi yang hakiki. Kembalikan pendidikan ke pangkuan Islam, di bawah naungan Khilafah. Sistem yang memuliakan pendidik, melahirkan generasi berakhlak mulia, serta menegakkan disiplin sebagai bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta.
Wallahu alam bishowab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak