Kapitalis Pendidikan : Jalan Sistematis Merusak Islam dalam Kehidupan

Oleh : Nenah Nursaadah,
 Ciparay Kab. Bandung.

 
Viral di medsos kasus adu jotos antara guru SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi bernama Agus Saputra dengan muridnya berujung saling lapor ke polisi. Kini, giliran orang tua siswa melaporkan Agus ke polisi atas dugaan Undang-undang Perlindungan Anak. Siswa berinsial MLF (16) didampingi ayah kandungnya  dan kuasa hukumnya mendatangi Polda Jambi, pada Senin (19/1/2025) malam. Mereka langsung menuju Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jambi.

Sebelumya, Agus Saputra, guru mata pelajaran bahasa Inggris di sekolah itu terlebih dulu membuat laporan ke Polda Jambi, Kamis (15/3/2026) malam atas kasus dugaan penganiayaan yang dialaminya.detikcom. Kronologi kejadiannya berawal dari peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar, kata Agus, Rabu (14/1/2026), dilansir dari detik Sumbagsel.

Sedangkan menurut siswa, guru tersebut “sering ngomong kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin," ujar MLF. Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, mengatakan peristiwa tersebut merupakan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, sebagaimana dijamin dalam Konstitusi dan UU Perlindungan Anak.

Kasus guru dikeroyok murid yang terjadi di Jambi ini, bukan sekadar konflik personal atau emosi sesaat. Ini adalah masalah  serius dari dunia pendidikan yang sedang tidak baik-baik saja. Karena  Relasi guru–murid yang seharusnya  dibangun di atas penghormatan dan keteladanan, ini  justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, bahkan kekerasan.

Disatu sisi, murid bertindak tidak sopan, kasar, dan kehilangan batas adab. Di sisi lain, tak dapat dimungkiri ada pula guru yang kerap menghina, merendahkan, atau melabeli murid dengan kata-kata yang melukai perasaan atau hatinya. Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan. Inilah pendidikan sistem sekuler kapitalis, yang menjauhkan Islam Dari kehidupan.

Berbeda dalam sistem Islam, yang memandang pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Rasulullah saw., bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak.

Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), menghormati, sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, bukan hinaan apalagi cacian. Karena Guru adalah figur teladan, bukan sekadar pengajar saja, karena setiap perbuatannya itu akan di contoh oleh muridnya.

Maka peran Negara memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, yang terdiri dari akliyah (pola fikir) dan  Nafsiah (pola sikap) bukan sekadar pinter dari sains dan teknologi saja. Tapi akan membentuk generasi yang beradab. Sesuai arahan Islam, pendidikan melibatkan tiga unsur pelaksana, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Unsur-unsur tersebut harus berjalan secara sinergis dan dinamis. Itu semua akan berjalan jika sistem Islam di terapkan secara kaffah dalam semua aspek kehidupan.
Wallahu a'lam bish shawwab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak