Bencana Kembali Melanda, Perlu Berbenah Tata Kota!


Fathimah 
(Aktivis Dakwah Kampus)


 
BPBD DKI Jakarta melaporkan banjir masih menggenangi 29 RT di Jakarta. Dari jumlah tersebut, titik banjir terbanyak ada di wilayah Jakarta Timur. "BPBD mencatat saat ini (banjir) terdapat 29 RT," kata Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, dalam keterangannya, Sabtu (31/1/2026) (detiknews.com, 31/1/2026).

Mitigasi Bencana: Perkara Penting! 

Banjir merupakan bencana yang kompleks. Penyebabnya merupakan akumulasi dari berbagai hal. Ada faktor alam, ada juga faktor manusia. Bila dilihat dari segi faktor alam, banjir kerap kali disebabkan curah hujan yang tinggi. Akan tetapi, tentu kita tidak dapat serta-merta menyalahkan alam saja, bukan? Faktanya, memang ada faktor manusia disana. Mulai dari tingginya deforestasi, alih fungsi lahan tak terkendali, daerah resapan air tertutup bangunan tinggi, hingga sungai yang tak dapat membendung lagi. 

Maka, alih-alih menyalahkan alam, sudah saatnya negeri ini berbenah dan mulai menata mitigasi bencana, baik berupa kebijakan preventif maupun kuratif. Ketika mitigasi bencana baik, maka pasti dampaknya bisa diminimalisir. Dengan begitu, harta, jiwa, maupun infrastruktur dapat selamat. 

Mitigasi bencana tidak dimulai ketika terjadi bencana, melainkan dimulai dari jauh-jauh hari sebelum bencana terjadi. Maka, mitigasi bencana memerlukan perencanaan yang matang. Mulai pra-bencana (preventif), seperti dari pembangunan tata kota yang berwawasan lingkungan, pengelolaan sistem drainase dan pengerukan sedimentasi sungai, pembuatan jalur evakuasi bencana, sistem prediksi dan deteksi bencana, serta simulasi bencana. 

Mitigasi juga dilakukan saat terjadi bencana, seperti lokasi pengungsian yang dapat dijangkau masyarakat, komunikasi yang mumpuni, bantuan makanan serta obat-obatan yang mencukupi, serta teknologi untuk mengalihkan material bencana. 

Mitigasi pasca bencana (kuratif), seperti penguatan ruhiyah dan mental bagi korban bencana, perbaikan rumah dan infrastruktur, serta revitalisasi dampak bencana. 

Buruknya Tata Kelola Lahan

Faktanya, banjir di kota merupakan problem klasik yang berulang. Ini berarti, ada kekeliruan dalam tata kelola perkotaan. Dapat kita amati bersama, banyak berdiri bangunan-bangunan pencakar langit, namun minim perhatian terhadap lingkungan. Alhasil, lahan tak lagi mampu menyerap air. Sehingga ketika terjadi hujan lebat, air cenderung mengalir ke tempat yang lebih rendah dan mengundang banjir. 

Inilah yang terjadi ketika kran investasi dibuka selebar-lebarnya, namun diskriminatif terhadap penjagaan alam. Demikianlah paradigma kapitalistik mewarnai negeri tercinta kita. Di hari ini, pemasukan menjadi prioritas, sementara analisis dampak lingkungan hanya dijadikan sebagai formalitas.

Islam Memperhatikan Tata Kota dengan Tetap Berwawasan Lingkungan 

Tentu berbeda jauh dengan Islam. Sebagai agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan, Islam telah mengatur bahwa peran negara adalah sebagai ri’ayah su’unil ummah (pengurus urusan umat). Negara wajib menjalankan perannya sebagai pelaksana syariat dan penjaga kebutuhan rakyat. Maka, negara yang menerapkan Islam akan bersungguh-sungguh melakukan mitigasi bencana, mulai dari pra-bencana, saat terjadi bencana, hingga pasca-bencana. 

Pembangunan dalam Islam tidak serta-merta mengedepankan keuntungan. Melainkan, menjadikan kemaslahatan rakyat jangka panjang sebagai prioritas. Meski membutuhkan biaya yang besar, tata kota berwawasan lingkungan akan tetap dikedepankan. Pembangunan akan dikelola secara mandiri oleh negara dan tidak akan diserahkan kepada swasta yang berfilosofi bisnis. Dengan demikian, kontrol terhadap lingkungan akan tetap terjaga. Dalam QS. Al-A'raf ayat 56 Allah berfirman, "Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik."

Sebagaimana mentalitas yang dimiliki oleh seorang Umar bin al-Khaththab ra. tatkala beliau menjadi kepala negara. Berkaitan dengan pembangunan kota beliau berujar “Seandainya ada seekor keledai terperosok di kota Baghdad karena jalan rusak, aku khawatir Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban diriku di akhirat nanti.” Mindset pelayanan seperti inilah yang seharusnya mendasari pemimpin negara dalam merencanakan pembangunan, bukan mindset bisnis yang mengeruk keuntungan semata. 

Tidak heran, perhatian peradaban Islam terhadap taman begitu besar. Tidak 
ada sebuah kota Islam, baik di Timur maupun Barat,
yang kosong dari taman-taman. Inilah yang membuat bangunan Islam memiliki
 ciri khas. Terlebih lagi, keberadaan taman tidak hanya di pusat kota saja. Tetapi, setiap rumah di Andalusia memiliki taman, bahkan rumah kecil sekalipun. James Dicky, seorang sejarahwan Spanyol Islam, mengatakan bahwa setiap rumah memiliki aliran air, bunga-bunga, pohon-pohon kecil, dan sarana-sarana istirahat yang lengkap.

Sangat jelas, negara dalam Islam akan melakukan segala tindakan preventif bencana secara serius dan komprehensif dalam rangka menjaga keselamatan jiwa rakyatnya. Saat bencana terjadi, pemerintah bertanggung jawab memberikan bantuan secara layak, pendampingan, hingga para penyitas mampu menjalani kehidupannya secara normal kembali pasca bencana.

Ini semua dapat dilakukan karena peradaban islam memiliki sumber dana yang stabil dan beragam. Hal ini dapat diketahui dari pengaturan Islam terkait Baitul Mal (pendanaan negara). Terdapat pos pendanaan yang bersumber dari fai’ dan kharaj serta harta kepemilikan umum. Didalamnya, pembangunan akan dilakukan dengan tetap memperhatikan dampak lingkungan. Bahkan, pengalokasian untuk kondisi darurat seperti bencana selalu ada. Sungguh, demikianlah keunggulan Islam dalam penatakelolaan kota dan pengatasan bencana. Wallahu A’lam bi Shawwab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak