Gen Z dalam Cengkeraman Kapitalisme Digital


Oleh : Desi Permata


Generasi muda saat ini lahir pada era digital. Sejak kecil mereka terbiasa menggunakan smartphone, bahkan bersentuhan dengan media sosial. Survei Profil Internet Indonesia 2022 oleh Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) pada Juni 2022 terhadap lebih dari 3.000 responden gen Z menunjukkan bahwa lebih dari 90% mereka mengenal dan menggunakan internet.
Untuk waktu mengakses internet, ternyata Indonesia berada diatas rata-rata global. Rata-rata waktu akses internet warga +62 adalah 7 jam 22 menit. Sementara rata-rata global adalah 6 jam 38 menit (cnbcindonesia.com (29/11/2025))

Data ini menegaskan bahwa masyarakat Indonesia terutama gen Z makin tidak bisa lepas dari internet, terutama lewat smartphone. Kebiasaan ini di prediksi akan terus meningkat seiring makin cepatnya adopsi teknologi digital di negeri ini.
Kecanduan ini dapat memberikan efek negatif pada kesehatan fisik, psikologis, serta interaksi sosial. Saat ini, kehidupan kaum muda banyak dipengaruhi oleh waktu yang dihabiskan di depan layar, yang sayangnya berkaitan langsung dengan peningkatan masalah kesehatan mental. Gangguan kesehatan mental akan berpengaruh langsung pada cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Jika tidak ditangani, depresi dapat merusak perkembangan generasi baik pada aspek psikologis, sosial, maupun fisik serta menghambat potensi jangka panjangnya.

Sungguh satu kerugian bagi dirinya, keluarganya, dan umat secara pasti.
Krisis kesehatan mental yang dialami oleh generasi muda sebagai dampak dari sistem kapitalisme ini perlu segera diatasi. Semua ini harus dimulai dengan adanya perubahan mendasar dalam pandangan negara terhadap generasi mudanya.

Kapitalisme platform menjadikan data, algoritma, dan jaringan pengguna sebagai sumber utama keuntungan. Perusahaan-perusahaan seperti Google, Meta, TikTok, Shopee, hingga perusahaan ride-hailing (Gojek, Grab, Maxim, dsb) menguasai infrastruktur digital yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Mereka tidak hanya menjual layanan, tetapi mengatur cara orang bekerja, berbelanja, bersosialisasi, dan bahkan berpikir. Ketergantungan inilah yang membuat platform digital menjadi aktor ekonomi paling kuat setelah pandemi mereka memimpin rebound kapitalisme global.

Ada proyek besar untuk memalingkan generasi muda. Dominasi ini melahirkan hegemoni digital, yaitu keadaan ketika platform bukan lagi sekadar penyedia jasa, tetapi produsen budaya dan pembentuk kesadaran masyarakat. Algoritma menentukan apa yang dianggap penting, apa yang menjadi tren, siapa yang terlihat, dan bagaimana realitas ditafsirkan. Dalam hegemoni digital, kontrol sosial tidak dijalankan melalui paksaan, tetapi melalui penerimaan sukarela masyarakat mengikuti logika platform karena dianggap normal, praktis, dan tak tergantikan.
Konten - konten media yang beredar di dunia maya secara tidak sadar sudah menjadi sarana pendidikan untuk netizen. Banyak standar - standar terutama di media sosial yang dianut oleh netizen. Kemudian dijadikan pedoman bagi cara berpikir dan perilaku mereka.

Tentu saja, standar di media sosial kebanyakan tidak bersumber dari Islam kaffah. Banyaknya justru yang bertentangan dengan Islam. Karena bingkai dari teknologi informasi di sosial media adalah akidah sekuler dan ideologi kapitalisme.
Dalam sistem kapitalisme, segala sesuatu diukur oleh uang. Akibatnya gen Z mudah di iming-imingi hidup enak dengan cara cepat oleh influencer flexing. Sisi kelam sosial media bukan hanya itu, ia juga sarang kemaksiatan. Mulai dari pembullyan, judol, pinjol hingga pornografi.
Konten-konten yang terbebas dan diawasi dari kemaksiatan hanya ada dalam sistem Islam.

Sistem Islam yang memiliki visi untuk menciptakan generasi terbaik, yang siap memimpin peradaban, bukan sekadar menjadi konsumen digital yang pasif.
Perubahan mendasar ini memerlukan sebuah sistem yang kokoh dan berkomitmen tinggi untuk meningkatkan kualitas generasi muda.
Sistem Islam di era digital akan menjadikan perlindungan mental dan pengembangan karakter generasi sebagai fokus utama yang tidak bisa ditawar.
Perjuangan saat ini adalah perjuangan membentuk kesadaran bagi kaum Muslim agar mau melanjutkan kembali kehidupan Islam.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak