Oleh: Essy Rosaline Suhendi
(Aktivis Muslimah Karawang)
Tranformasi digital yang saat ini membersamai generasi, ibarat mata pisau yang memiliki dampak baik atau buruk, tergantung pemanfaatannya. Gen Z yang terlahir di era digital, menghadapi sebuah peluang sekaligus hambatan yang jika dibiarkan tanpa tuntunan bagaimana cara mengendalikannya, memungkinkan terjadinya kerusakan pada diri dan kehidupan sekitar.
Seperti riset yang baru-baru ini ditemukan oleh Ketua Program Studi Magister dan Doktor Fakultas Ekonomi Unpar, Dr Vera Intanie Dewi. Dalam risetnya menyatakan, menemukan 58 persen Gen Z memanfaatkan pinjaman online (pinjol) untuk hiburan serta kebutuhan gaya hidup (www.kompas com, 28/11/25)
Sementara itu, penelitian di Spanyol mengungkap, bahwa iklan Judol (judi online) dan Pinjol (pinjaman online) memanglah menyasar anak muda kelas bawah, dua kali lebih banyak dibanding dengan kelas atas, sedangkan kelas anak muda dari kelas sosial ekonomi lebih tinggi justru seringnya melihat iklan perjalanan dan rekreasi. Itu artinya, algoritma iklan di platform media sosal mampu menganalisa status ekonomi pengguna dari histori digital mereka, lalu menayangkan iklan yang sesuai dengan kecenderungan mereka (www kompas.com, 05/12/25).
Algoritma dalam Sistem Sekuler Kapitalisme
Fakta diatas, cukup menjadi bukti, bahwa keberadaan generasi muda khususnya Gen Z sedang dilanda algoritma berbahaya yang dapat mengancam kepribadian mereka, menjadi seseorang yang konsumtif dan hedonis. Sistem sekuler kapitalisme, menjadi jalan bagi Gen Z untuk bodoh terhadap literasi finansial hingga terjerumus dalam jeratan Pinjol dan Judol.
Di satu sisi yang cukup miris, kehadiran negara yang seharusnya peka terhadap algoritma kapitalis, malah seakan terlihat membiarkan atas kegagalan yang negara berikan kepada Gen Z dalam melindungi mereka dari bahaya di era digital. Maka tidak heran, jika nilai-nilai sekuler dan materialis sangat berpengaruh dalam sistem pendidikan dan lingkungan masyarakat, hingga membuat generasi rentan dalam melakukan tindakan spekulatif dan beresiko.
Dalam sistem sekuler kapitalisme, yang memisahkan agama dengan kehidupan serta menjadikan asas keuntungan sebagai tolak ukur perbuatan, pasti akan terus dengan sengaja membuat manusia menjadi tersesat hingga kehilangan arah. Termasuk dalam penggunaan media sosial, pengguna hanya menjadi pasar yang akan digiring terbuai dalam ruang digital ala logika kapitalisme, menjadikan platform (lewat algoritmanya) berfokus pada kebiasaan bukan keselamatan pengguna.
Begitu, wajah picik sistem sekuler kapitalisme, berhasil menyulap algoritma ibarat rentenir senyap yang menyasar korbannya diam-diam dan ketika sudah tenggelam di dalamnya, korban pun kebingungan dan bahkan ada beberapa yang memutuskan bunuh diri atau membunuh orang, gara-gara terjebak dengan lilitan hutang Pinjol dan Judol. Untuk itulah, sudah sepatutnya, algoritma ciptaan sistem sekuler kapitalisme ini ditolak dan dirubah, dengan membuka jalan baru yang jauh lebih sempurna.
Islam Menyelamatkan Ruang Digital
Jalan tersebut, tidak lain adalah mengganti aturan dalam sistem sekuler kapitalisme dengan aturan dan nilai-nilai Islam yang bersumber dari wahyu, bukan hawa nafsu semata. Akan menjadi hal yang akan menyelamatkan, apabila manusia memahami bahwa Islam memiliki solusi atas semua problematika manusia, termasuk dalam menghadapi masalah di era digital.
Islam, memiliki sistem ekonomi yang khas ketika diterapkan dalam kehidupan. Sistem ekonomi Islam, mampu menjamin kesejahteraan seluruh rakyatnya (individu per-individu) termasuk generasi. Nalarnya, Jika masyarakat tercukupi kebutuhan hidupnya, maka peluang untuk melakukan kejahatan atau pelanggaran hukum syara seperti Pinjol berbasis ribawi dan Judol yang jelas dilarang dalam Islam, akan menjadi mudah dihindari.
Selain itu, pendidikan dalam Islam juga akan turut andil dalam membentuk kepribadian Islam generasi, sehingga hanya menyadarkan perbuatannya pada halal-haram bukan manfaat materi. Dengan diterapkan sistem pendidikan Islam, maka generasi yang terlahir akan dituntun memiliki kepribadian Islam yang tangguh dan mampu menyelesaikan permasalahan hidupnya sesuai dengan syariat Islam.
Oleh karenanya, butuh peran negara dalam menerapkan Islam secara menyeluruh dan sempurna. Dan yang mampu menerapkannya, hanya sistem pemerintahan Islam atau khilafah. Khilafah akan menjadikan aqidah Islam sebagai dasar dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam sistem ekonomi dan sistem pendidikan.
Bahkan, terkait infrastruktur digital, khilafah akan membangun paradigma Islam di dalamnya, sehingga mampu melindungi generasi dari konten atau normalisasi maksiat dan kriminalitas. Negara dalam khilafah, juga hanya akan mengijinkan konten yang hadir dilayar monitor pengguna media sosial atau internet berupa edukasi bermanfaat dan tontonan serta tulisan yang memuliakan Islam.
Untuk itulah, untuk melindungi generasi dari arus digital global yang merusak, harus ada generasi muslim yang memahami identitasnya sebagai muslim dan sebagai pembangun peradaban melalui pembinaan Islam melalui pembinaan Islam serta aktivitas dakwah bersama kelompok dakwah ideologi. Dengan bersatunya generasi muslim muda yang turut memperjuangkan Islam kembali tegak di muka bumi, maka opini dakwah Islam khilafah akan menjadi kesadaran umum di masyarakat dan dengan pertolongan Allah Swt., khilafah akan kembali tegak dan Islam diterapkan sempurna dalam kehidupan.
hadis dari Hudzaifah ra.yang berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
تَكُوْنُ النُّبُوَّة فِيْكُمْ مَا شَاء اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُم يَرْفَعَهَا الله إِذَا شَاء أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّة فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا الله إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا فَيَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُم تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَرِيَّةً فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا اللهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
Artinya: Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang zalim. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi dan al-Bazzar).
Wallahu a'lam bishshawab
Tags
opini
