Ummu Aqeela
Pemerintah menetapkan Isra Miraj 2026 sebagai hari libur nasional yang jatuh pada Jumat, 16 Januari 2026. Ketetapan tersebut tercantum dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama, sekaligus membuka peluang long weekend di Januari 2026 bagi masyarakat.
Peringatan Isra Miraj 2026 menjadi momentum penting bagi sekolah untuk menanamkan nilai keimanan, akhlak, dan keteladanan Nabi Muhammad SAW kepada para siswa. Salah satu cara yang paling efektif adalah melalui kegiatan lomba yang dikemas secara edukatif dan menyenangkan.
Melalui berbagai ide lomba Isra Miraj, siswa tidak hanya diajak berkompetisi, tetapi juga memahami makna perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha. Kegiatan ini dapat disesuaikan dengan jenjang SD, SMP, hingga SMA agar tetap relevan dengan kemampuan peserta.
Namun taukah kita bahwa dibalik persitiwa Isra Mi’Raj ini ada pesan penting yang harus kita ketahui bahwa hari ini ajaran Islam semakin terpinggirkan dikarenakan banyak pihak yang mengkambing-hitamkan Islam sebagai ajaran yang mengerikan, menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa. Islam dimaknai sebagai aktivitas ibadah ritual saja.
Momen Isra’ Mi’raj adalah momen yang terbaik untuk mengingatkan kita akan perjuangan Rasulullah Muhammad saw ketika mendakwah agama Islam di Makkah yang senantiasa mendapatkan ujian yang betubi-tubi dari kaum kafir Quraisy . Beliau mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari orang-orang kafir Quraisy seperti cacian, terror, fitnah hingga boikot dan ancaman pembunuhan. Namun, di tengah-tengah berbagai kesulitan dalam menyampaikan ajaran islam tersebut, beliau senantiasa ditolong Allah swt, melalui Istrinya Siti Khadijah, ra dan pamannya Abi Thalib yang senanstiasa berada dibelakang rasulullah mendukung perjuangan beliau.
Rasulullah Muhammad saw terus mendapat bantuan dan perlindungan dalam mengajak orang-orang Makkah untuk masuk Islam, meskipun kebanyakan orang-orang kafir Quraisy menolak ajakannya, beliau tetap berdakwah. Namun, tidak berselang lama Siti khadijah ra dan Abu Thalib wafat, sehingga Rasulullah Muhammad saw merasakan kesedihan yang mendalam, mengingat keduanya adalah orang-orang yang sangat dicintai dan telah banyak membantu dakwahnya. Di tengah-tengah kesedihannya itu, Allah swt. menghibur beliau dengan mengutus malaikat Jibril untuk melangsungkan peristiwa Isra’ Mi’raj.
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Rasulullah Muhammad saw) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (T.Q.S. Al-Isra': 1).
Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj ini, Rasulullah Muhammad saw menerima wahyu sholat lima waktu dari Allah secara langsung tanpa perantara malaikat Jibril kemudian pada pagi harinya, beliau menyampaikan peristiwa isra’ miraj yang telah dialaminya tersebut kepada kaumnya. Namun, yang terjadi adalah penolakan yang cukup keras dari orang-orang kafir Quraisy, mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan Rasulullah Muhammad saw sebagai bualan, tidak masuk akal dan hanya cerita bohong.
Menegakkan Sholat berarti Menegakkan keseluruhan Syari’at Islam
Perintah sholat lima waktu merupakan amalan fardhu (‘ain) bagi setiap individu muslim yang telah baligh dan sempurna akalnya. Dengan sholat diharapkan kepribadian seorang muslim terbentuk menjadi pribadi yang mukminin dan muttaqin, demikian sholat sebagai media yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
Penegakkan sholat merupakan perkara utama karena tegaknya sholat adalah tegaknya agama, robohnya sholat adalah robohnya agama pula, sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad saw: “Sholat adalah tiang agama, barangsiapa menegakkannya maka sesunguhnya dia telah menegakkan agama dan barangsiapa meninggalkannya sesungguhnya dia telah merobohkan agama (HR. Baihaqy).
Penegakkan sholat merupakan bagian dari penerapan sistem peraturan hidup Islam seperti metode dalam menegakkan syari’at Islam secara umum bukan khusus menegakkan sholat. Oleh karena itu, disyari’atkan atas orang yang meninggalkan sholat lima waktu dengan sanksi takzir karena telah bermaksiat dan had atas yang murtad jika selama tiga hari tidak kembali masuk Islam, serta sanksi atas pelanggaran syari’at-syari’at yang lain.
Sesungguhnya Allah telah mensyari’atkan adanya pemerintahan Islam dalam penegakkan syari’at sholat, karena hanya dengan metode penerapan Islam melalui negara penerapan dan pelestarian sholat dapat ditegakkan, orang-orang yang tidak mengerjakan sholat akan dijatuhi sanksi, begitu juga orang-orang yang berbuat kemunkaran dan kekejian yang lain dapat dicegah.
Sehingga Momen Isra’ Miraj harus dijadikan umat Islam sebagai media untuk meneladani Rasulullah Muhammad saw dalam melaksanakan perintah Allah swt yaitu sholat lima waktu sesuai dengan ajaran beliau, sekaligus sebagai momen untuk menegakkan syari’at. Tinggalkan,
ide-ide dari Barat seperti sekulerisme, liberalisme, kapitalisme dan ide-ide sesat yang justru menjauhkan Islam dari kehidupan harus dicampakkan lalu kembali kepada aqidah Islam yang lurus sehingga tak hanya hanya shalat yang ditegakkan namun Islam turut tegak bersama syariat-syariat Islam yang lain dibawah kepeminpinan Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW., di Madinah yaitu tidak lain dan tidak bukan Khilafah Islamiyah.
Wallahu ‘alam bish-showab.
