Oleh : Nurfillah Rahayu
( Forum Literasi Muslimah Bogor)
Sebulan sudah bencana yang melanda beberapa daerah di Sumatera berlalu. Bahkan update korban bencana terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban jiwa pada bencana Sumatera per 1 Januari 2026 yang dilansir oleh detiknews.com mencapai 1.157 jiwa korban yang tewas dan sebanyak 380.360 jiwa mengungsi.
Kondisi darurat belum benar-benar pulih. Sementara muncul desakan agar pemerintah menetapkan status bencana nasional. Tidak Hanya itu di Aceh, fenomena bendera putih dikibarkan sebagai simbol keputusasaan. Bahkan, muncul kembali bendera GAM di beberapa titik yang berpotensi melebar ketika negara dianggap absen.
Akses yang dilaluipun untuk evakuasi tidaklah mudah karena akses vital warga masih bergantung pada jembatan darurat yang rawan. Tentu saja kondisi ini memunculkan pertanyaan serius apakah anggaran penanganan bencana benar-benar mencukupi dan tepat sasaran.
Karena dari sini terlihat jelas ketika penanganan bencana bahwa negara gagal menjamin anggaran yang benar-benar mencukupi untuk pemulihan pasca bencana.
lemahnya implementasi Undang-Undang Kebencanaan, yang seharusnya menjamin respon cepat, terpadu, dan berkeadilan bagi korban nyatanya lemah. Terbukti dengan lambatnya penanganan sehingga menimbulkan banyak korban yang tewas bukan karena bencana namun karena kelaparan berkepanjangan akibat bantuan tidak sampai merata.
Inilah potret buram Sistem Kapitalisme, pengambilan kebijakan sering didasarkan pada kalkulasi ekonomi dan efisiensi anggaran.
Sistem Demokrasi-Kapitalisme melahirkan penguasa yang abai terhadap urusan rakyatnya. Padahal banyak warga yang peduli terhadap sesama tapi malah dipersulit dengan berbagai kebijakan yang tidak masuk di akal.
Untuk itu dibutuhkan Sistem yang sempurna dalam mengatur kehidupan. Dan Sistem Islamlah satu-satunya yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi. Karena
dalam Islam, pemimpin adalah raa’in (pengurus) yang wajib memastikan keselamatan rakyat secara menyeluruh.
Dalam Sistem Islam Penanganan bencana dilakukan cepat, terpusat, dan terkoordinasi karena setiap keterlambatan dipandang sebagai kelalaian amanah yang akan dipertanggungjawabkan.
Selain itu negara bertanggung jawab penuh, tanpa kompromi dalam hal kepentingan ekonomi yang akan memberikan kesejahteraan bagi seluruh umat karena Islam mewajibkan negara menjamin kebutuhan dasar korban bencana seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, dan keamanan tanpa terikat logika untung rugi. Negara juga berkewajiban mencegah bencana melalui pengelolaan alam yang adil salah satunya dengan tidak sembarangan membuka lahan ditempat resapan air dan antisipasi lainnya secara berkelanjutan demi kemaslahatan umat.
Wallahua'lam bishshawab
Tags
opini