New Gaza: Damai Palsu di Bawah Kendali Penjajah





Oleh : Vita Ratna
(Penggerak Dakwah dan Perubahan Sosial)


Setelah Gaza dihancurkan tanpa ampun, dunia Barat kembali datang membawa satu tawaran lama dengan kemasan baru: perdamaian. Kali ini diberi nama New Gaza. Sekilas terdengar menjanjikan rekonstruksi, stabilitas, masa depan. Namun bagi umat yang jernih berpikir, istilah ini justru menandai babak baru penjajahan, bukan akhir penderitaan.

Allah SWT telah mengingatkan umat ini agar tidak terbuai oleh narasi musuh:
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah [2]: 120)
Ayat ini bukan sekadar peringatan akidah, tetapi juga peringatan politik. Selama umat tunduk pada standar dan desain musuh, selama itu pula kerelaan mereka tidak akan pernah tercapai.


Damai Versi Penjajah

New Gaza bukan lahir dari kehendak rakyat Palestina. Ia adalah desain politik Amerika Serikat dan Israel untuk mengelola Gaza pasca-agresi agar tidak lagi menjadi pusat perlawanan. Gaza tidak diposisikan sebagai tanah yang dijajah, melainkan wilayah “bermasalah” yang harus ditata ulang.

Padahal Allah SWT menegaskan larangan menyerahkan urusan kaum Muslim kepada orang-orang kafir:
“Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa’ [4]: 141)
Namun itulah yang terjadi dalam skema New Gaza. Melalui Dewan Perdamaian Gaza atau otoritas transisi, penjajah tidak perlu menguasai secara langsung. Cukup mengendalikan keputusan, keamanan, dan bantuan. Gaza boleh dibangun kembali, tetapi, tanpa kedaulatan, tanpa kekuatan, tanpa hak menentukan masa depan sendiri.

Kolonialisme Gaya Baru
Apa yang disebut New Gaza sejatinya adalah kolonialisme modern. Jika dahulu penjajahan dilakukan dengan kekuatan militer terbuka, kini ia tampil rapi lewat regulasi, dana, dan lembaga administratif.

Allah SWT menggambarkan watak kaum penjajah ini dengan sangat jelas:
“Dan mereka tidak akan berhenti memerangi kalian sampai mereka berhasil memalingkan kalian dari agama kalian, jika mereka sanggup.” (QS. Al-Baqarah [2]: 217)

Perang terhadap Gaza bukan sekadar perang senjata, tetapi perang kehendak, perang arah, dan perang masa depan.


Pandangan Islam: Damai Tidak Bisa Lahir dari Penjajahan

Dalam Islam, perdamaian bukanlah tujuan yang berdiri sendiri. Ia harus lahir dari keadilan dan kedaulatan. Setiap perdamaian yang mengokohkan dominasi musuh adalah perdamaian batil.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang imam (khalifah) adalah perisai. Umat berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa perlindungan wilayah dan kehormatan umat tidak diserahkan kepada badan netral, apalagi penjajah, tetapi kepada kepemimpinan Islam yang sah.

Ketika Gaza diatur oleh dewan bentukan musuh, sejatinya umat sedang dipaksa hidup tanpa perisai.


Akar Masalah: Hilangnya Kepemimpinan Umat

Mengapa New Gaza bisa dipaksakan? Karena umat Islam hari ini kehilangan institusi pemersatu dan pelindung. Negara-negara Muslim berdiri sendiri-sendiri, lemah, dan tunduk pada tatanan global Barat.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
“Jika kalian berjual beli dengan ‘inah, sibuk dengan ekor sapi, ridha dengan pertanian, dan meninggalkan jihad, Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan dicabut hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud)
Kehinaan itulah yang hari ini kita saksikan di Palestina: tanah kaum Muslim ditentukan masa depannya oleh musuh.


Penutup

New Gaza bukan solusi. Ia adalah cara halus untuk mengakhiri perlawanan tanpa mengakhiri penjajahan. Mengganti bom dengan bantuan, mengganti tank dengan dewan, mengganti kekerasan terbuka dengan kontrol permanen.
Allah SWT berfirman:
“Janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”. (QS. Hud [11]: 113)
Umat Islam tidak boleh tertipu oleh damai palsu. Gaza tidak butuh skema penjajah. Gaza butuh pembebasan. Dan pembebasan itu hanya akan nyata ketika umat kembali bersatu di bawah kepemimpinan Islam yang melindungi, bukan tunduk.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak