Oleh: Arsy
(Aktivis Dakwah)
Saat ini banyak kita jumpai aktivis-aktivis muslimah baik di media sosial maupun di lingkungan sekitar, mereka berjuang tidak hanya un tuk diri mereka sendiri tetapi untuk masa depan peradaban karena sebagai seorang muslimah apalagi seorang ibu di tengah gempuran zaman digitalisasi seorang ibu di tantang untuk bertugas mencetak generasi pemimpin, pemimpin yang bisa memimpin dirinya sendiri dan juga orang lain serta menjadi penakluk yang tidak takut oleh apapun dan siapapun kecuali kepada Allah SWT., ibu diharapkan bisa mencetak generasi visioner, generasi yang mempunyai visi, misi yang mampu menembus ke langit menuju surga.
Begitu pentingnya peran seorang ibu dalam mendidik generasi sehingga seorang ibu mendapat gelar madrasatul Ulla (sekolah utama). Sosok ibu sebagai pendidik paling awal, penting, dan utama bagi seorang anak, membentuk pondasi karakter, budi pekerti dan ilmu dasar sebelum anak masuk ke sekolah formal. Ungkapan ini menekankan peran vital ibu dalam menanamkan nilai, akhlak, dan pengetahuan dasar yang akan menjadi landasan bagi perkembangan anak selanjutnya, menjadikannya arsitek peradaban generasi bangsa.
Untuk menjadi ibu generasi ideologis, seorang ibu harus bisa memadukan peran sebagai ibu dan kewajiban berdakwah yang didasari oleh kesadaran politik yang tinggi sehingga bisa menyiapkan generasi ideologis yang bisa memimpin umat.
Seorang ibu juga harus melek politik, karena politik sangat perpengaruh pada sendi kehidupan. Politik di dalam sistem Islam adalah meriayah (mengurusi) umat bukan politik di dalam sistem sekuler kapitalis yaitu kekuasaan untuk mencari keuntungan dan sebagai seorang ibu tugasnya adalah meriayah (mengurusi) kebutuhan rumah tangga termasuk mengurusi generasi maka dengan kesadaran politik yang tinggi, seorang ibu mampu memberi nyawa dan menghiasi perannya sebagai ibu dengan cita-cita besar memimpin umat.
Beberapa contoh keberhasilan ibu mendidik generasi para sahabat Rasulullah sehingga menjadi teladan bagi umat.
1. Khansa binti Amru (Ibunda Para Syuhada)
Nama lengkap beliau adalah Tumadhir binti Amru. Ia mendapat julukan "Ibunda Para Syuhada" (ibu para martir) karena kisah ketabahannya yang luar biasa. Kita bisa meneladani beliau dalam perang Qadisiyah, keempat putranya gugur di medan perang. Ketika menerima kabar duka tersebut, Khansa tidak menangis atau meratap, melainkan bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan putra-putranya dengan syahid, menunjukkan puncak keimanan dan keridhaan seorang ibu.
2. Ummu Sulaim/Rumaisha binti Milhan (Ibunda Anas bin Malik)
Ummu Sulaim adalah ibu dari Anas bin Malik, yang menjadi pelayan dan perawi hadis Nabi Muhammad SAW.
Beliau mendidik anaknya dengan kecintaan mendalam pada Islam sejak dini. Ketika Anas masih kecil, Ummu Sulaim membawanya kepada Rasulullah SAW. dan menyerahkannya untuk membantu dan belajar langsung dari Nabi, sebuah keputusan yang menunjukkan visinya untuk masa depan anaknya dalam agama.
3. Ummu Aiman/Barakah binti Tsa'labah (Pengasuh Nabi dan Ibu dari Aiman)
Meskipun awalnya adalah seorang budak yang kemudian dibebaskan, Ummu Aiman adalah sosok yang sangat dekat dengan Rasulullah dan menjadi ibu asuh keduanya setelah Halimah As-Sa'diyah.
Beliau menunjukkan kesetiaan dan kasih sayang yang luar biasa, merawat Nabi sejak kecil. Ia juga aktif terlibat dalam perjuangan Islam, mengobati prajurit yang terluka dan menyediakan air minum di medan perang, menunjukkan semangat jihad dan pengorbanan yang tinggi.
Pengaruh sekuler kapitalis
Peran seorang ibu sangat perpengaruh pada generasi, ibu adalah pondasi pembentuk generasi. Semua ibu pasti berharap anak-anaknya menjadi pemimpin jalan menuju surga tetapi saat ini karena Kita hidup di sistem sekuler kapitalis dengan berbagai serangan pemikiran dan budaya sekuler seperti kesetaraan gender, HAM, Moderasi beragama sehingga menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi ibu dan generasi dan bahkan merusak pola pikir dan perilaku ibu juga generasi.
Semakin canggihnya digitalisasi maka semakin masif pula pengaruhnya pada kehidupan apalagi saat ini digitalisasi memegang peran penting dalam kehidupan, semua bisa di akses melalui digital kalau dulu belanja harus pergi dulu ke pasar atau supermarket tetapi saat ini kita tinggal klik saja belanjaan sudah datang sendiri, dulu kalau mau makan kita masak dulu tetapi sekarang makanan datang sendiri dan begitu juga pengaruh negatif dari digital seperti serangan pemikiran barat, gaya hidup hedonis, sosialita, pornografi, pornoaksi bahkan sampai banyak yang terjerumus kemaksiatan bahkan melakukan kejahatan. Demi gaya hidup hedon sampai melakukan berbagai cara bahkan banyak yang sampai terjerumus judol, utang online dan lain-lain.
Di balik peran seorang ibu yang sangat vital terhadap generasi dan peradaban serta di balik Penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang mencekik rakyat dan mengkayakan para kapitalis sehingga membuat peran ibu semakin berat. Di balik asas sistem ekonomi kapitalis yaitu kebermanfaatan, perempuan di anggap sebagai komoditas yang bisa di berdayakan, di manfaatkan di berbagai bidang.
Kapitalis memanfaatkan kekuatan seorang ibu untuk bisa menopang kesulitan hidup akibat sistem ekonomi kapitalis, para kapitalis menekan laki-laki kesulitan mencari lapangan pekerjaan sedangkan kebutuhan hidup semakin sulit belum lagi penarikan pajak di segala bidang mulai dari pajak bangunan, pajak kendaraan bermotor, pajak penghasilan bahkan makan juga di kenai pajak.
Sistem ekonomi kapitalis memaksa seorang ibu keluar rumah meninggalkan keluarga dan generasi untuk melanjutkan hidup, mencari nafkah bahkan berbagai cara di lakukan untuk bisa mendapatkan penghasilan walupun harus melanggar syariat Islam bahkan sampai ada yang rela menjual diri demi untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Visi ibu
Di balik kerasnya sistem sekuler kapitalis, di tengah masifnya serangan digitalisasi saat ini merupakan tantangan bagi seorang ibu untuk bisa menetapkan visi dan misi pendidikan bagi anak-anaknya agar bisa membentuk generasi sebagai abdullah, khalifah fil ardh dan khairu ummah.
Surat Ali ‘Imran Ayat 110
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
Yang artinya, "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Ibu adalah guru utama, ibu yang pertama kali mengajarkan anak-anak belajar berbicara, berperilaku, anak adalah peniru ulung, mereka akan meniru apapun yang dilihat dan di dengarnya. Untuk itulah perlunya seorang ibu menjadi teladan yang baik bagi generasi. Ibu harus memiliki pendidikan agama Islam yang benar agar bisa memberikan teladan yang benar untuk para generasi penerus peradaban gemilang.
Salah satu tujuan sistem sekuler kapitalis adalah merusak seorang ibu karena dengan rusaknya seorang ibu maka akan rusak juga para generasi penerusnya. Para kapitalis menjauhkan ibu dari rumah untuk meninggalkan tugasnya sebagai Madrasatul Ulla menjauhkan peran ibu sebagai pendidik yang seharusnya mendidik generasi dengan pendidikan agama Islam yang benar dan kaffah (menyeluruh). ketika generasi rusak maka peradaban Islam juga rusak.
Sistem pendidikan Islam mendidik generasi berdasarkan akidah Islam sehingga generasi memiliki agliyah Islam (pola pikir Islam) dan juga nafsiyah Islam (pola sikap) sehingga membentuk syahsiyah Islam (kepribadian Islam) sehingga semua pemikiran dan perilakunya sesuai dengan syariat Islam.
Agar generasi mampu menerapkan syariat Islam secara kaffah maka harus mengganti sistem yang rusak dan merusak generasi dari segala sisi yaitu sekuler kapitalis dengan sistem yang benar dan mensejahterakan yaitu sistem Islam tem kapitalisme sekuler yang rusak dan merusak umat dari segala sisi dengan sistem yang benar dan menyejahterakan yakni sistem Islam.
